Posts Tagged ‘Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga’
Pasti semua sudah pernah dengar bahwa dalam mencari pasangan hidup, menurut falsafah Jawa, amatlah sangad penting untuk memperhatikan : bibit, bebet, bobot. Ga perduli apakah si dia bernama Master Sulumits Retsambew atau Sulumits Retsambew Dodol, Sulumits Wong Sableng, Tukang Nggame, Tukang Kampanye Damai atau pun Sang Visioner, selama memenuhi kriteria bibit (asal-usul keluarga, keturunan), bebet (harkat/martabat/gengsi, who’s who keluarga/lingkungan/temannya), dan bobot (nilai pribadi/ diri –pendidikan, kepintarannya, pekerjaan dan kualitas hidup lainnya) dijamin deh hubungan dengan si Dia dapat restu 100% dari ortu, keluarga dan para pinisepuh.
Apakah kriteria tersebut masih berlaku di jaman sekarang? Hmm.. menurut saya, sedikit banyaknya pasti lah secara langsung atau gak langsung tetap jadi tolok ukur apakah seseorang itu pantas untuk dijadikan pasangan hidup. Setuju gak? :P Tapi melihat maraknya kasus KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) akhir2 ini, rasanya penting untuk secara lebih spesifik memperhatikan beberapa hal lainnya dari sang calon pasangan.
Kenapa ini menjadi penting? Karena kasus KDRTÂ merupakan kasus yang lebih sulit diselesaikan dibanding dengan kasus kekerasan yang dilakukan oleh majikan, misalnya. Menjadi pelik dan rumit karena di dalamnya terlibat perasaan cinta, gak mau kehilangan, rasa malu, gak mau diketahui orang, menganggap masalah tersebut masalah intern/ aib keluarga dsb dsb. Menjadi memilukan karena orang yang dicintai adalah orang yang menyakiti. Namun, kasus KDRT sesungguhnya dapat dicegah atau diantisipasi, dengan memperhatikan secara seksama dan dalam tempo yang tidak singkat hal-hal berikut (kutipan artikel di Nyata, edisi Juni 2009): Read the rest of this entry »





